Social Links
AMRI | IMAM BUKHARI, KOMITMEN PADA DEAL AWAL
19028
post-template-default,single,single-post,postid-19028,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

IMAM BUKHARI, KOMITMEN PADA DEAL AWAL

Oleh : Nasruloh *)

Bisnis yang diberkahi salah satunya dari komitmen pada perjanjian bisnis. Prinsip ini sangat dipegang teguh oleh imam Bukhari. Apa gunanya untung besar, bila ada penghianatan? Bukankah kepercayaan itu modal terbesar dalam berbisnis?

Suatu hari barang dagangan Imam Bukhari yang dibawa oleh Abu Hafsh telah tiba. Pada sore harinya, para pedagang berkumpul hendak membeli barang dagangan tersebut.

Mereka bersedia memberikan laba sebesar lima ribu dirham kepada Imam Bukhari, akan tetapi sang Imam berkata, “Kalian pergilah, karena malam telah tiba.”

Keesokan harinya, pedagang lain datang hendak membeli barang dagangan tersebut. Pedagang yang baru tersebut bersedia memberi laba sepuluh ribu dirham. Atau dua kali lipat dari pembeli kemarin.

Tetapi, lagi-lagi sang Imam menolaknya dengan berkata, “Sesungguhnya semalam aku telah berniat hendak menjual barang dagangan ini kepada penawar pertama.” Akhirnya, barang itu pun diberikan kepada pedagang yang pertama menawarnya. Imam Bukhari berkata, “Aku tidak suka membatalkan niatku.”

Penghasilan passive income imam Bukhari yang lain adalah menyewakan tanah dengan harga tujuh ratus dirham setiap bulannya. Pihak penyewa terkadang membawakan buah mentimun dan semangka yang disukai Imam Bukhari dari tanah tersebut. Sang Imam memberi seratus dirham kepada penyewa tersebut setiap tahunnya.

Para ulama besar ternyata hidupnya dari bisnisnya sendiri untuk mendanai perjalanan samudera keilmuannya.

Salam 5 Jari

*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Baksolahar

Referensi:
60 Biografi Ulama Salaf, Syaikh Ahmad Farid, Pustaka Kautsar, Januari 2008

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment