Social Links
AMRI | APAKAH KITA CEMEN (CETEK MENTAL)???
18785
post-template-default,single,single-post,postid-18785,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

APAKAH KITA CEMEN (CETEK MENTAL)???

Oleh: Adib Munajib *)

Cemen itu cetek mental, artinya bisa mentalnya rapuh, mudah menyerah, mudah stres, mudah mengalah dan lain sebagainya.

Kebalikan dari cetek mental adalah mental pantang menyerah artinya punya daya tahan mental kuat, kehandalan mental yang tegar, tangguh dan teguh.

Contoh mental pantang menyerah seperti Kolonel Sanders yang sudah ditolak hampir 1008 kali saat menawarkan resepnya ke restoran-restoran, akhirnya dengan mental pantang menyerahnya bisa berhasil.

Thomas Alva Edison baru berhasil pada percobaannya yang ke 2000. Elvis Presley konser pertamanya dibatalkan karena rendahnya penjualan tiket. Dan lain-lain banyak sekali contoh mental pantang menyerah dari para tokoh sukses.

Kita punya kebiasaan buruk, biasanya kita hanya mengukur dalam hitungan ketiga, kalau sudah mencoba tiga kali ya sudah bubar jalan, untuk apa diteruskan.

Cara mengukur kita itu termasuk cemen atau tidak bisa menggunakan metode adversity quotient yang ditemukan oleh mbah Poul G. Stoltz.

Adversity quotient yaitu suatu kecerdasan atau kemampuan dalam mengubah atau mengolah sebuah permasalahan atau kesulitan menjadi sebuah tantangan yang harus diselesaikan agar tidak menghalangi mimpi-mimpi (cita-cita) dan prestasi yang ingin diraih.

Stoltz dengan konsep adversity quotient (kecerdasan kehandalan mental) membagi manusia menjadi 3 kelompok, yaitu :

1. Quitters (mereka yang berhenti), yaitu orang yang berhenti ditengah pendakian, mudah menyerah, gampang putus asa, mudah stres dan tidak bergairah mencapai puncak keberhasilan.

2. Campers (para pekemah), yaitu orang yang tidak mencapai puncak, cepat puas diri walau belum sampai puncak keberhasilan, namun tipe orang ini masih lebih baik dibanding quitters.

3. Climbers (para pendaki), yaitu orang yang selalu berupaya mencapai puncak pendakian, siap menghadapi berbagai tantangan dan tekanan sampai menuju puncak keberhasilan.

Nah sekarang jadi tahu, berarti cemen (cetek mental) sama dengan quitters, he he he.

Dari tiga kelompok diatas, masing-masing kita bisa mengukur diri, kita sebagai quitters (cemen), campers atau climbers dalam memperjuangkan mimpi-mimpi (cita-cita) kita.

Amati saja masa lalu kita, lebih condong mental kita ke mana dalam menyikapi persoalan yang sudah menimpa kita. Apakah kebanyakan daya juang kita tangguh, kompromi atau mudah menyerah?

Namun jika seseorang sering bergaul dalam lingkungan yang isinya orang-orang yang antusias, bergairah, pantang menyerah, gigih, ulet, tekun dalam memperjuangkan mimpi-mimpi (cita-cita)nya, maka orang tersebut yang tadinya termasuk quitters (cemen) bisa berubah menjadi climbers, setidaknya menjadi campers.

Pengertian sikap mental pantang menyerah harus dibedakan dengan sikap defensif yang negatif, sudah tahu salah tetap bertahan, terbukti melakukan kesalahan tetapi tidak mau mengakui kesalahan tersebut.

Sudahkah hari ini kita introspeksi diri dengan metode adversity quotient? Apakah di dada kita ketemunya loyo, lunglai, lemes, galau, gelisah dan gundah gulana? Apakah di dada kita ketemunya antusias, bergairah, semangat, ulet, tekun, ceria dan cetar membana? He he he.

Semoga para member AMRI mentalnya semakin tangguh, mari kita lakukan visualisasi untuk ketangguhan mental kita masing-masing.

Salam lima jari

*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Kilau Mode

DPP AMRI
dppamri@gmail.com
No Comments

Post A Comment