01 Mar KUATKAN PEMASARAN DULU?
“Mas Imam apa produksi sendiri? ” Tanya sahabat. Saya jawab, “Tidak Pak, saya tidak produksi sendiri, tapi es Dolphin ini sudah merek saya sendiri”. Jawaban ini nampaknya membuat dia makin heran. Produk sudah pakai merek sendiri, tapi tak produksi sendiri. Koq bisa?
Hampir 2 tahun ini, omset naik dan turun. Saya maklumi saja, baru pemula sebagai pebisnis. Perlu belajar lebih. Perlu mencoba lebih. Perlu evaluasi lebih. Jadi, apapun kondisinya, maklum saja. Sambil dibenahi.
Tapi, bagaimana caranya memakai merek sendiri, brand sendiri, namun tak memproduksi sendiri? Ini pertanyaan banyak orang, Anda mungkin diantaranya, he he..
Saya tak produksi sendiri. Hanya order ke produsen, barang sudah sampai di storage saya. Dia fokus di produksi, saya fokus dipenjualan. Saya dan dia bahkan tak ada hubungan khusus sebelumnya, murni hubungan bisnis. Jual beli putus. Tanpa ikatan apapun.
Anda pernah lihat sebuah produk yang pada kemasannya tertulis begini; di Produksi oleh PT. X untuk PT. Y? Pernah lihat ? Kalau belum, coba sesekali Anda lihat lihat produknya ritel modern. Banyak sekali produk alf* atau ind* yg pakai cara ini.
Prosesnya persis itu. Sebuah perusahaan memproduksi barang (PT. X). Dia hanya memproduksi. Mereknya sesuai permintaan dari pemilik merek (PT. Y). Jadi, yang dikenal publik tetap Pemilik Merek. Branding tetap dimiliki oleh pemilik merek. Bukan produsennya.
Kadang ada juga yang pakai sistem makloon. Sistem Ini banyak juga yg pakai. Sebuah sistem yang seperti meng-sub-kan sebuah pekerjaan produksi ke pihak lain. Bahan ada yang dari pihak pemesan. Di bisnis manufakturing juga sering dijumpai.
Kembali ke bisnis saya, es Dolphin jelas milik saya. Tapi tak produksi sendiri. Saya tinggal kontak produsen pesan sekian puluh ribu pcs, rasa coklat sekian, rasa vanila sekian, rasa kacang hijau sekian. Transfer. Beberapa hari barang nyampek gudang. Beres.
Bahkan perijinan, khususnya terkait produksi, semua menggunakan ijin yang dimiliki produsen. Sebagai penjual yang fokus di pemasaran, saya tak disibukkan dengan produksi, karyawan, bahan, mesin, kemasan, dan lain lain.
Produsennya selama ini juga memproduksi barang dengan Mereknya sendiri. Mengapa ada pilihan buat kita pakai merek kita sendiri? Dan tidak pakai merek milik produsennya? Ini pertanyaan yang saya harap Anda sudah tahu jawabannya.
Salam 5 Jari
*) Penulis adalah Mentor AMRI, tinggal di Lamongan
No Comments