Social Links
AMRI | PENGALAMAN BERGAYA HIDUP TANPA HUTANG
18670
post-template-default,single,single-post,postid-18670,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

PENGALAMAN BERGAYA HIDUP TANPA HUTANG

Oleh: Adib Munajib *)

Saya mengenal istilah gaya hidup tanpa hutang (debt free living) dari Uda Roni Yuzirman (Founder TDA).

Pengalaman saya bekerja di beberapa perusahaan swasta nasional, semuanya berhutang di bank sebagai modal usahanya.

Rata-rata ketika terjadi krisis CEOnya meyakinkan ke jajaran manajemennya bahwa DER (Debt to Equity Ratio) dan DAR (Debt to Asset Ratio) perusahaan dalam kondisi aman, sebenarnya yang paling tahu persis kondisi keuangan perusahaan adalah Direktur/Manager FNA (Finance and Accounting), agar manajemen tetap fokus bekerja.

Rata-rata karyawan level manajerial dicekoki hutang dalam bentuk KTA, kartu kredit, hutang koperasi, bahkan sampai mendapatkan kemudahan kredit rumah dan kendaraan, itu sebagai pengikat agar karyawan level manajerial yang berprestasi tetap loyal dengan perusahaan.

Bencana itu datang ketika kita terlena dengan harta dan tahta, sehingga akal sehat kita terabaikan, saya terbelit hutang hingga pernah mendapat dua surat peringatan dari bank, Alhamdulillah bisa saya selesaikan dengan baik, sehingga nama baik saya masih terjaga tidak sampai masuk daftar hitam BI checking dan warning bulletin.

Saat menawarkan kredit rayuannya setengah mati namun saat kredit macet menagihnya sampai mati-matian. Teman saya yang kartu kreditnya banyak sampai bilang, saat menawarkan kredit bagai raja namun saat menagih kredit macet bagai keset.

Gara-gara terbelit hutang, beberapa hari pernah makan sereal dan pernah dua hari hanya makan sekali saja plus tangisan istri, dari situ kesadaran saya kembali muncul, bahwa hutang juga harus dikelola dengan baik.

Dari pengalaman pahitnya terjerat hutang, akhirnya saya kembali lagi mengelola hutang sesuai dengan kaidah DER dan DAR yang biasa dibahas dalam ilmu akuntansi.

Setelah sekian lama bergelut dengan gaya hidup hutang bank (baik yang produktif maupun konsumtif), sampai tibalah saya mengenal gaya hidup tanpa hutang (debt free living).

Namun hidup selalu mengalami perubahan, ritmenya dulu hidup kere belum punya banyak uang, lalu bergelimang uang dan hutang bank, lalu berubah haluan menjadi tanpa hutang bank (debt free living). Dari ritme hidup ini yang paling nikmat adalah hidup tanpa hutang, karena sukses adalah bisa tidur nyenyak, he he he.

Kehidupan yang stagnan adalah jika tidak ada petumbuhan, sekarang tantangan yang saya hadapi adalah usaha yang agak terlambat dalam ekspansi dibandingkan usaha teman-teman yang menggunakan hutang bank yang dikelola dengan baik (mengikuti kaidah DER dan DAR yang sehat).

Saya tidak akan memperbandingkan dengan usaha teman-teman yang cepat tumbuh dengan hutang bank yang jor-joran tanpa pertimbangan DER dan DAR yang sehat, tipe seperti ini biasanya kacau balau cashflownya karena tidak mengelola hutang dengan baik.

Hingga sekarang saya masih mencari formula untuk usaha level mikro dan kecil dalam percepatan bisnis yang tanpa hutang (debt free living), dengan catatan hanya punya hutang dagang (hutang dari supplier).

Usaha level menengah dan besar akan lebih mudah dalam mengelola usahanya tanpa hutang, karena dengan modal sendiri yang sudah besar dan sudah mendapatkan kepercayaan dari supplier untuk berhutang dagang.

Demikian sekedar gambaran pengalaman saya menjalani proses bergaya hidup tanpa hutang (debt free living). Semuanya berproses secara alami (tidak secara radikal).

Salam Lima Jari

*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Kilau Mode

Tags:
,
DPP AMRI
dppamri@gmail.com
1Comment
  • Iwan
    Posted at 18:22h, 28 Maret Balas

    Memang enak sekali debt free living….
    Saya sudah nyaris 10 thn hidup tanpa hutang (termasuk kartu kredit)…..
    Nyaman sekali….tidur nyenyak…sekalian elajar utk mengendalikan diri….dr keinginan yg tdk akan pernah terpuaskan…

Post A Comment