13 Feb BERBISNIS DENGAN KOMPETITOR
Oleh: Anang Sujana *)
Banyak yang malas berhubungan dengan kompetitor. Mengapa? Karena dalam mindset kita, kompetitor adalah saingan yg mengancam keberlangsungan bisnis atau usaha.
Pada umumnya, seseorang dianggap kompetitor jika memproduksi barang atau jasa yang sama. Kesamaan barang yang dijual kerap merasa tidak nyaman. Padahal seringkali tanpa sadari, kompetitorlah yg membuat kita menjadi lebih kreatif dan bersemangat dalam mengembangkan bisnis.
Perasaan lebih bersemangat itulah yang saya rasakan hingga saya merasa perlu bersinergi dan berkolaborasi dengan kompetitor. Kerja sama yang baik dengan kompetitor jelas lebih menguntungkan dari pada saling bersaing atau berperang. “Meladeni” persaingan kompetitor pun akan membuang energi dan menambah beban.
Jadi, lebih baik biarkan saja kompetitor sebagaimana apa adanya. Mulailah memperlakukan kompetitor sebagai rekan bisnis sehingga kita bisa saling mempelajari satu dengan yg lainnya.
Contoh, saya memproduksi boneka, lalu saya memiliki kompetitor yang juga memproduksi boneka. Kalau yang dilakukan adalah bersaing, maka yang kemungkinan terjadi adalah perang harga, bermusuhan, atau saling mengalahkan satu dengan yg lainnya.
Kondisi tersebut tentu saja bertentangan dengan apa yg Tuhan ajarkan untuk menjaga silaturrahim sebaik-baiknya. Jika berbisnis dengan Iman, menjaga hubungan baik, bersinergi, dan berkolaborasi yg dilakukan.
Saya juga suka menciptakan pesaing-pesaing baru di bisnis boneka, karena itulah Saya nggak ragu untuk mengajarkan bagaimana cara memproduksi boneka dan cara menjual sampai sedetil-detilnya.
Dan Alhamdulillah sudah lebih dari 50 pengusaha boneka yg belajar ke Hayashitoysmart dan sukses, dengan karyawan rata-rata di atas 20 orang.
Rasanya menyenangkan bisa bersaing dengan orang yang kita ciptakan. Keberhasilannya kebanggan sendiri buat saya. Meskipun kadang tdk sedikit yg nyebelin haha…
Adapula yang menganggap cara ini, membuat saya dimanfaatkan orang.Tapi mengapa kita harus marah dimanfaatkan oleh orang lain? Bukankah sebaik-baik orang ialah yg bermanfaat bagi orang lain?
Selama ini, kita selalu diajarkan untuk memenangkan dalam persaingan, terlebih dalam berbisnis. Padahal hidup tidak melulu soal harta tapi juga taqwa. Ketaqwaan pada Sang Penciptalah yang membuat hidup menjadi lebih indah.
Bersikaplah positif pada kompetitor jadikanlah mereka rekan bisnis kita, sehingga hubungan yg tercipta adalah saling mengisi dan membantu.
Bagaimana jika ada yang menganggap kita kompetitor? Sering kali saya bertemu dengan orang yg menganggap saya kompetitor. Biasanya saya bersikap cuek, kalaupun dia menganggap saya kompetitornya, dia sendiri yg akan rugi, karena akan banyak tenaga yang terbuang untuk mikirin saya haha..
Ada juga kompetitor memakai cara-cara kotor untuk memenangkan persaingan. Misalnya, barang yang dijual lebih murah, sehingga konsumen bertanya kenapa barang saya lebih mahal dari pada barang kompetitor? Biasanya kompetitor saya ajak diskusi agar menjual barang dengan harga sama.
Dari sini yang harus diperhatikan adalah niat saat jual barang lebih murah. Jika niatnya untuk melindungi konsumen, itu baik dilakukan. Akan tetapi, jika niatnya untuk menjatuhkan harga maka merugilah anda.
Niat yg berbeda akan mendapat hasil yg berbeda pula. Berarti hidup, tergantung dari niat yg kita tanamkan.
Ada pula yg menganggap terlalu dekat dengan kompetitor itu tidaklah baik, karena mereka akan dengan mudah meniru apa yg kita buat. Bagi Saya hal itu pun tidak jadi masalah. Dalam berbisnis sangatlah biasa untuk saling jiplak menjiplak, ide briliant dengan modifikasi tambahan.
Bukankah menyenangkan jika ide kita mampu menginspirasi orang lain? Berhubungan baik dengan kompetitor, memudahkan kita untuk mengevaluasi diri dan cara kerja yg kita lakukan. Disitulah letak saling berbagi dan mengisi satu dengan yg lainnya.
Salam 5 Jari
*) Penulis adalah Mentor Nasional AMRI dan Owner Hayashi Toys Mart
No Comments