30 Jan SEDEKAH PRODUKTIF Bagian 1
Oleh : Suhu Wan (Ketum AMRI & Owner 70 Idolmart)
Suatu saat seorang teman saya yang berasal dari sebuah kampung di Sumatera Barat dan tinggal di Jambi bercerita saat dia mau bersedekah untuk kampung halamannya dalam bentuk sedekah produktif. Dengan dana yang mencapai lebih dari Rp 100 juta dia berkeinginan membantu “menghidupkan” banyak lahan tidur dengan memberdayakan banyak para pemuda yang menganggur atau setengah menganggur disana.
Saudara di kampung yang diminta untuk mengkoordinir malah keberatan dan merasa heran, kenapa? Karena sumbangan dari “orang rantau” selama ini yang sering adalah untuk membangun madrasah, membantu keluarga yang dikampung untuk merenovasi rumah dan membeli peralatan dll. Semua sumbangan itu bagus-bagus saja sebenarnya, namun banyak juga yang kadang “agak berlebihan” sementara ada hal lain yang lebih membutuhkan.
Pengalaman saya sendiri yang kebetulan istri juga berasal dari Sumatera Barat saat berkurban sapi dihari raya Idul Adha. Ternyata banyak sekali yang berkurban di kampung halaman sehingga saat pembagian daging setiap warga mendapat daging yang “berlimpah”dan bahkan banyak yang dikirim ke kampung sebelah. Hanya sekali saya pernah berkurban di kampung, setelah pengalaman itu saya berkurban di tempat lain.
Suatu ketika saya pernah berniat mau membangun rumah untuk anak yatim di kampung dan akhirnya saya urungkan karena ada juga rumah yatim yang telah ada malah hanya berisi sedikit sekali anak yatim dibanding kapasitas rumah dan itupun anak yatim yang berasal dari luar pulau. Bahkan ada madrasah yang bagus namun tidak ada muridnya, ini yang saya maksud sumbangan “berlebihan”.
Kembali ke cerita awal teman tadi, akhirnya karena saudaranya menolak untuk menerima dan menggkoordinir sumbangan produktif dia hanya bilang,”Jika kamu tidak mau ya sudah saya akan cari orang lain yang mau menerima dan mengkoordinir, namun kamu jangan iri karena saya memberi untuk orang lain”.
Dengan dana Rp 100 juta itu merupakan nilai yang tidak kecil untuk di kampung dan tentu saja banyak sekali lahan tidur yang bisa diaktifkan sehingga akan memperoleh penghasilan yang terus menerus dan dapat membantu banyak pengangguran. Selanjutnya akan terjadi multiflier efect, dimana orang yang tadinya mengganggu dan sekarang punya penghasilan, akan mampu berbelanja sehingga menghasilkan lagi pendapatan buat yang lain sehingga bisa meningkatkan perekonomian di kampung tersebut. Inilah yang saya namakan sedekah produktif.
Daripada kita memberi sedekah pada orang yang minta-minta atau pengamen di jalan lebih baik kita memberi bantuan pada pedagang asongan yang berguna untuk tambahan modal. Memberi sumbangan pada peminta-minta atau pengamen di jalan selain kurang mendidik juga hanya untuk konsumtif (langsung habis) bahkan bisa saja ada yang digunakan untuk keperluan yang kurang baik. Namun jika kita berikan pada pedagang asongan yang digunakan untuk tambahan modal tentu saja jauh lebih baik dan jelas produktif (menghasilkan).
Misalkan, setiap hari rata-rata kita memberikan sumbangan di jalan itu Rp 10 ribu berarti selama 1 bulan Rp 300 ribu, ini yang kita berikan kepada pedagang asongan sebagai tambahan stok barang yang dia jual. Nilai stok Rp 300 ribu tersebut akan bisa menghasilkan omset minimal Rp 100 ribu dengan keuntungan bersih Rp 30 ribu akan dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Apalagi jika bantuan sebesar Rp 300 ribu ini diberikan dalam bentuk pinjaman (tanpa biaya, tanpa bunga, tanpa jaminan, tanpa sita) yang akan mereka cicil sehingga nanti menjadi pinjaman bergulir, inilah bagian dari program dari AMRI FOUNDATION. Selengkapnya Silahkan baca:
https://t.me/ritelnews/806
dan baca juga:
https://t.me/amrinasional dengan artikel berjudul “JADILAH SAKSI SEJARAH DEKLARASI AMRI FOUNDATION”
Akan saya lanjutkan tulisan ini pada bagian berikutnya. Silahkan baca juga 600 lebih artikel saya di ritelnews.com
Salam 5 Jari AMRI
No Comments