01 Jan KEBAIKAN TAK BERSYARAT bagian 2
Oleh : Cucu Saepuloh
Melanjutkan tulisan sebelumnya mengenai cerita tentang sebuah rumah makan di daerah Ciamis yang selalu ramai dikunjungi. Sebagai penumpang sebuah travel yang sering melakukan perjalanan ke daerah Jawa Tengah, saya awalnya tidak menaruh perhatian terhadap rumah makan itu, namun setelah melihat ramainya rumah makan tersebut dan begitu loyalnya para Sopir travel tersebut terhadap rumah makan itu, akhirnya saya jadi penasaran untuk mencari tahu alasannya.
Suatu ketika saat saya melakukan perjalanan lagi, setelah keluar dari rumah makan tersebut saya coba cari tahu alasannya dengan ngobrol langsung dengan Pak Sopirnya, kebetulan memang saat itu saya sengaja memilih tempat duduk di kursi depan pinggir Pak Sopir.
Pak Sopir bercerita pernah suatu saat karena membawa penumpang hanya dua orang, karena ada perasaan malu dan nggak enak dihatinya, maka Ia memutuskan untuk tidak beristirahat di rumah makan itu, Ia mencari rumah makan yang lain.
Keesekon harinya pas jalan kembali karena membawa penumpang yang banyak, mampirlah Ia ke rumah makan itu. Ketika masuk, pemilik rumah makan itu yang kebetulan melihatnya langsung datang menghampirinya sambil tersenyum dan menanyakan mengapa kemarin katanya nggak mampir.
Dengan tersipu malu, Pak Sopir menjawab bahwa kemarin karena membawa penumpang hanya dua orang, Ia malu untuk mampir. Mendengar jawaban itu, Pemilik rumah makan itu berkata dengan sedikit nada keras, “Pak, janganlah begitu, Saya ini sudah berniat kalau setiap hari akan menggratiskan makan dan rokok untuk para Sopir yang mampir ke sini, walaupun Bapak nggak bawa penumpang sekali pun, akan tetap kami gratiskan, datanglah selalu ke sini, jangan sungkan”.
Begitu kaget dan tersentuhnya hati Pak Sopir dengan jawaban itu, begitu baik dan besarnya perhatian dari pemilik rumah makan itu. Semenjak kejadian itu, Ia merasakan ada ikatan emosional dengan rumah makan itu, begitu pun teman-teman Sopir yang lainnya merasakan hal yang sama.
Aha… Inilah menurut saya rahasia mengapa Para Sopir travel itu selalu pada mampir ke rumah makan tersebut, begitu kuatnya kedekatan dan ikatan emosionalnya karena ada kebaikan dari pemilik rumah makan itu.
Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Guru marketing Seth Godin dengan istilah ‘Brand Generousity’, dimana bahan bakarnya adalah keberlimpahan atau dalam istilah saya kebaikan tak bersyarat, artinya kalau mau berbagi atau berbuat baik ya berbagilah tanpa ada harapan apapun atau maaf ‘modus’ apapun di belakangnya.
Tidak perlu khawatir akan kerugian, karena sudah menjadi alamiah ketika ada seorang manusia yang berbuat baik tanpa syarat kepada manusia yang lainnya, seseorang yang menerima kebaikan tersebut dengan sendirinya akan berterimakasih dan berbuat kebaikan yang sama.
Kita bisa belajar dan mengambil spiritnya dari Seth Godin yang begitu besar energi berbaginya dan begitu konsistennya, ketika dalam setahun Ia hanya absen empat hari saja menulis artikel, artinya ada 361 hari yang Ia habiskan untuk konsisten berbagi… Woow, produktif sekali ya.
Hal ini juga saya temukan dari apa yang saya amati di IDOLMART, hampir di setiap grand opening toko selalu ramai dan dipadati pengunjung, karena ada kebaikan tak bersyarat disitu dengan menggratiskan bisa sebuah buku gambar atau pun mainan tanpa harus belanja, cukup datang dan ambil saja barang yang digratiskan tersebut.
Perlu diketahui dan diingat bahwa manusia itu kebanyakan melakukan keputusan untuk membeli dengan sisi emosionalnya bukan sisi logisnya. Dan sisi emosional manusia erat kaitannya dengan pikiran bawah sadar, dimana kekuatan pikiran bawah sadar manusia itu 88% hampir mendominasi segala aktivitas kehidupannya.
Pesan dan renungan terutama untuk diri saya sendiri, berbisnislah bukan sekedar hanya mencari kekayaan materi saja, namun berbisnislah untuk berbagi kekayaan yang sudah ada di dalam diri, yaitu kekayaan hati.
Kebahagiaan bukan untuk dicari, kebahagiaan hadir ketika bisa menerima dan mensyukuri apapun dalam hidup dengan penuh kesadaran.
Semoga bermanfaat.
No Comments