14 Nov Online to Offline Masa Depan Bisnis Ritel (bag 2)
“Bisnis Ritel Zaman Now”
oleh : Ivan Dipa *)
Setelah daftar panjang tumbangnya para raksasa ritel offline yang saya tulis di tulisan bag 1.
Belum baca? silahkan baca dulu di » https://t.me/ritelnews/621
Satu lagi raksasa ritel MAP Group, terpaksa harus menutup salah satu lini bisnis ritel nya Lotus Dept Store. Setelah sebelumnya menutup dua gerainya, akhir bulan oktober 2017 seluruh gerai Lotus telah tutup.
Mengapa Lotus harus menyerah dan tutup?
Alasan tutupnya Gerai Lotus, tentu saja yang paling tahu manajemen lotus sendiri :blush:
Namun sebagai pelaku bisnis ritel kita harus pintar memaknai fenomena ini. Apalagi ini telah memunculkan polemik di berbagai kalangan.
Ada 3 Faktor yang dituduh menjadi penyebabnya :
1. Daya Beli Turun
2. Perubahan Gaya Hidup
3. Beralih ke Online
Berbagai pihak seperti pelaku ritel, asosiasi ritel, pemerhati ritel dan lembaga survei walau tidak satu suara. Mereka sepakat paling tidak salah satu, dua atau semua faktor di atas yang jadi penyebabnya.
Namun pemerintah termasuk yang membantah keras faktor no.1, yaitu anggapan bahwa daya beli masyarakat turun, karena berdasarkan data pemerintah secara makro penjualan ritel telah membaik dan naik di kisaran 5 persen.
Anomali pemerintah ini juga dibenarkan ketum AMRI Suhu Wan MH. Pada saat ritel lain berguguran, justru Idolmart grup milik beliau baru saja buka cabang ke-67, dan 3 cabang segera lagi menyusul. Bahkan di tahun 2017 inilah merupakan pertumbuhan cabang baru tertinggi dalam 3 tahun terakhir yaitu 11 cabang dalam 1 tahun.
Tentu saja ini bukan kebetulan belaka, ingin tahu rahasianya? silahkan baca kisahnya di https://t.me/ritelnews/704
Faktor no.2 telah banyak dibahas para pakar dan pemerhati marketing di berbagai media. Nah sesuai kapasitas pribadi, saya lebih senang membahas faktor no.3, yaitu beralihnya pola belanja masyarakat dari Offline ke Online.
Melanjutkan tulisan saya pada bag 1, fenomena ini lebih mudah kita pelajari dari tren Marketplace.
Sekitar 10 tahun lalu di tahun 2007, saya berangkat ke Shanghai juga berkunjung ke Hangzhou, Wenzhou dan Ningbo dengan misi mencari mesin produksi buat pabrik yang akan dibangun perusahan tempat saya bekerja dulu.
Selain takjub sama kreatifitas Tiongkok dalam memproduksi mesin-mesin murah. Yang menjadi perhatian saya adalah telah maraknya bisnis online disana. Setiap pabrik yang saya kunjungi di semua kota, salah satu aktifitas utama di kantor mereka adalah terdapat staf khusus yang tugasnya melayani konsumen melalui website Alibaba. Bisa dikatakan Alibaba telah menjadi kebutuhan bagi semua bisnis disana. Saya juga sebelum pergi kesana, menemukan informasi dan melakukan kontak dengan semua calon vendor ini melalui Alibaba.
Perhatikan polanya, Alibaba saat itu baru berumur sekitar 7-8 tahun. Kita bisa lihat dua penguasa pasar marketplace tanah air saat ini juga usianya sama 7-8 tahun. Bahkan salah satunya telah menjadi bagian Alibaba grup. Saya yakin setiap pola ada jejaknya dan bisa berulang.
Jika selaku peritel kita masih apatis bahkan alergi sama dunia online, siap-siap saja tinggal menjadi sejarah. Presiden Jokowi pun saat ditanya mengenai mengapa banyak toko ritel tutup, dengan gaya khasnya berkata “Ya salah mereka gak ngikutin zaman”. Bahkan beliau menambahkan dari data yang didapat 35% ritel di Tiongkok tutup, diyakini karena makin berkibarnya Alibaba dkk.
Saat manajemen Lotus ditanya apa langkah selanjutnya? Mereka menjawab tengah menggarap lini bisnis online yang akan dinamakan MAP eMall.
Apa yang harus kita lakukan?
Simpel saja, tingkatkan pengetahuan bisnis ritel kita baik Offline maupun Online.
Lalu belajar nya dimana ?
AMRI adalah tempat belajar ritel yang komplit saat ini.
Segera gabung di
Ingin belajar langsung ketemu suhu ritel AMRI dan para Mentor AMRI?
Segera daftar dan hadir di Seminar Nasional Ritel.
Informasi dan registrasi nya klik http://www.ritelnews.com/seminar-nasional-ritel
Bersambung ke Bag 3 **
No Comments