Social Links
AMRI | BANGKIT DARI KEBANGKRUTAN
17612
post-template-default,single,single-post,postid-17612,single-format-standard,vcwb,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive
 

BANGKIT DARI KEBANGKRUTAN

Pada tahun 2005 saat memiliki 36 toko saya mengalami kebangkrutan. Saya memulai bisnis pertama kali dengan modal nol, namun saat bangkrut syukurnya saya tidak kembali ke titik nol lagi. Jika tidak ke titik nol lalu kemana saya jatuh? Saya jatuh ke minus, ya saya bangkrut dengan meninggalkan hutang lebih dari 1 milyar rupiah.

 

Tetapi jatuh ke minus ini membuat saya bersyukur, kenapa? Karena jika saya jatuh ke titik nol maka kemungkinan besar saya tidak akan menjadi pengusaha saat ini. Saya pernah bekerja (sebagai akuntan), dari pada pusing mikirin bisnis mendingan saya kerja saja lagi. Tetapi dengan hutang 1 milyar saya bingung, jika saya bekerja lagi hutang sebesar itu andaikan saya bayar dengan uang gaji maka kapan bisa lunas. Jangan-jangan sampai saya meninggal hutangnya tidak lunas-lunas.

 

Saat Nabi Muhammad Isra’ mi’raj dia meliha ada orang yang tidak masuk neraka namun hanya melayang-layang di pintu syurga. Nabi lalu bertanya pada malaikat Jibril dan dijawab bahwa orang itu masih meninggalkan hutang saat masih hidup di dunia. Saya takut juga jika di akhirat kelak jadi melayang-layang.

Ada kata-kata “jika bangkrut ke titik nol itu sama dengan jatuh ke syurga”, bayangkan dahulu memulai dari titik nol dan bisa berhasil, jika sekarang kembali lagi ke titik nol dengan segudang pengalaman, maka tentunya akan jauh lebih baik dari saat memulai. Tanpa pengalaman saja mulai dari nol sukses apalagi dengan segudang pengalaman.

Lantas apa yang saya lakukan saat itu? Bagaimana cara saya bisa bangkit dari keterpurukan dengan kondisi minus? Apa kunci saya bisa seperti hari ini, dari kondisi minus akhirnya dalam waktu kurang dari 5 tahun memiliki pendapatan sepuluh kali lipat dari jumlah pendapatan sebelum bangkrut?

 

 

Suatu ketika saya curhat pada mentor saya Almarhum Pak Ndung (mentor spritual) dan dia menyampaikan 2 hal kepada saya :

PERTAMA, “Kamu harus menerima semua yang terjadi adalah kesalahan kamu sendiri, selagi berusaha menyalahkan orang lain maka kamu tidak akan bisa bangkit“.
Apa yang disampaikan Almarhum jujur saja langsung “menohok” ulu hati saya, selama 2 tahun dalam kondisi kebangkrutan jujur saja saya masih sering mencari kesalahan-kesalahan diluar diri saya sendiri, menyalahkan karyawan yang tidak loyal, menyalahkan pemasok yang memberi barang jelek kepada saya, menyalahkan keluarga yang tidak mendukung, menyalahkan pesaing dll. Selagi saya menyalahkan orang lain atau tidak menerima kegagalan saya maka saya tidak akan mampu untuk bangkit. KITA HANYA BISA MEMPERBAIKI DIRI JIKA KITA MENERIMA DIRI KITA SALAH.

KEDUA,“Kamu sedekah nggak?”

saya jawab,”Dahulu saya sedekah Pak, namun begitu bisnis menurun dan saya kesulitan keuangan maka sedekah saya menurun dan akhirnya berhenti. Bahkan sejak dari dahulu saya rutin mengirim uang pada Ibu saya, karena kesulitan saya tidak melakukanya hampir selama 1 tahun”.
“Mestinya saat ini kamu harus lebih rajin bersedekah”, nasehat beliau.

 

Sejak saat itu saya langsung bersedekah lagi, walau menyesuaikan dengan kemampuan. Sejak saat itu saya langsung mengirim uang pada Ibu saya yang seorang janda tua dan hanya mengharapkan bantuan dari anak-anaknya. Toh sedekah itu kan tidak terbatas hanya semata-mata materi, tersenyum tulus pada seseorang itu adalah sedekah, berbagi ilmu yang bermanfaat adalah sedekah. Alhamdulillah sejak saat itu bisnis saya mulai bangkit dan bahkan akhirnya jauh lebih berkembang ketimbang sebelum saya bangkrut.

Saya akhirnya menyadari, saat berada dalam kondisi titik nadir saya selalu berusaha menyelesaikan banyak masalah yang sebenarnya banyak tidak mampu saya selesaikan jika hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri. Banyak masalah dalam kehidupan ini sebenarnya berada diluar kemampuan kita sebagai manusia, hanya dengan berserah dan meminta tolong kepadaNya lah yang bisa kita lakukan.

“Makna dari sedekah itu adalah berarti kita bersyukur, dengan bersyukur sekaligus kita berserah kepada Allah.”

 

 

Oleh : Wan MH

Ketua Umum AMRI (Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia) dan Owner 64 minimarket Idolmart

Suhu Wan MH
95ropi@gmail.com
2 Comments
  • imam hanafi
    Posted at 16:47h, 17 Mei Balas

    Sangat menginspirasi…
    Bangkrut bukan akhir cerita….
    Justru Cerita baru dimulai…….

    Share true story yang menggugah jiwa….

    Terima kasih suhu Wan MH.

  • Fardi Hidayat
    Posted at 14:41h, 20 Juli Balas

    menyalahkan orang lain tidak akan membuat kita bangkit,sedekah tdk akan mengurangi harta/penghasilan kita.

Post A Comment